Curhat Spaceman di Antariksa

Kadang, aku duduk di jendela modul stasiun luar angkasa, menatap bumi dari jauh, dan merasa pengen curhat—sendiri. Aku tahu, nggak ada yang denger di sini selain mesin, gravitasi nol, dan bintang-bintang. Tapi justru itu yang bikin nyaman. Nggak ada gangguan, nggak ada komentar, cuma aku dan kosmos yang luas banget.

Hari-hari di antariksa nggak selalu seru kayak di film. Ya, ada pemandangan indah, ada percikan cahaya bintang yang bikin hati adem, tapi ada juga momen bosan yang bikin kepala pusing. Seperti pagi ini: aku sudah patroli, periksa panel surya, catat data eksperimen, tapi rasanya masih ada yang kurang. Rasanya pengen banget cerita ke seseorang, tapi… teman spaceman lain lagi sibuk, dan komunikasi ke bumi itu lambat, bisa beberapa menit sampai beberapa jam baru dapat balasan.

Jadi aku curhat ke… aku sendiri. Aku bilang, “Hei, hari ini rasanya nggak ada yang ngerti aku, ya. Semua panel surya kayak nggak peduli, layar komputer nggak jawab pertanyaan, bahkan kopi di kantong pun nggak bisa tersenyum balik.” Aku ketawa sendiri. Aneh, tapi rasanya lega. Kadang, antariksa bikin aku sadar: masalah kecil di bumi itu lucu banget kalau dibandingkan sama harus mikirin oksigen, tekanan modul, atau apakah kabel penting nggak putus.

Aku juga sering curhat soal kangen rumah. Bayangin, jauh banget dari keluarga, dari teman, dari kopi pagi di dapur. Aku bisa ngobrol sama bumi cuma lewat video singkat, dan itu juga rasanya terlalu cepat. Jadi aku mulai nulis diary antariksa: semua hal yang bikin aku senang, kesal, bingung, atau lucu, aku tulis. Bahkan hal sepele seperti jatuhnya sendok di gravitasi nol, atau balon udara di modul yang nyasar ke arah helmku.

Yang paling kocak, aku sering curhat ke “teman imajiner”—benda-benda di modul yang aku kasih nama. Ada si Lampu yang selalu “mendengarkan” tanpa komentar, ada si Kursi yang selalu ada buat aku duduk curhat, dan si Robot Pembersih kecil yang kadang ikut melayang-melayang pas aku cerita panjang. Aku tahu ini absurd, tapi percaya atau nggak, kadang obrolan imajiner ini bikin hati lebih ringan.

Curhat di antariksa juga bikin aku introspeksi. Aku sadar, sendirian di ruang luas ini bikin aku lebih ngerti diriku sendiri. Apa yang bikin aku senang, apa yang bikin aku stres, dan apa yang sebenernya pengen aku capai. Misalnya, aku sadar aku nggak cuma spaceman yang tugasnya patroli dan eksperimen, tapi juga manusia yang butuh teman, tawa, dan perhatian kecil.

Akhirnya, setelah beberapa jam duduk, menatap bumi yang jauh tapi indah, aku merasa lebih tenang. Aku tutup diary, tarik napas dalam-dalam, dan bilang ke diri sendiri, “Besok pasti hari yang lebih baik. Dan kalau nggak, setidaknya aku punya cerita kocak buat curhat lagi.”

Di antariksa, curhat memang nggak bisa langsung dijawab orang lain, tapi percayalah, itu tetap bikin hati hangat. Kadang, bicara sama diri sendiri, atau bahkan benda-benda di sekeliling, bisa jadi cara terbaik untuk bertahan, tersenyum, dan tetap waras di tengah luasnya kosmos.